Rabu, 27 Juni 2012
Selasa, 26 Juni 2012
SUCI Season 2
Karena ini udah malam dan gue mulai lapar dan ngantuk, gue ngomongin yang santai-santai aja yaaaa...
Stand Up Comedy Indonesia Season 2...
Awalnya gue nggak tau ada SUCI season 2, dan gue tau dari youtube. Yap. Gue sering banget ngubek-ngubek Stand up comedy gitu di yutub. Dan mentok-mentok buka videonya Raditya Dika
Entahlah. gue suka materi doi. dan suara doi. dan ekspresi doi. dan gerakan doi....
Gue suka stand up comedy ya gergara Radit. Karena gue udah banyak ngebaca buku-buku doi, jadi kesan yang gue tau doi bakalan stand up comedy adalah: Doi pasti lucu banget. Dan yap. Doi emang lucu.
| Gilang, Ge, kemal |
Seiring waktu berjalan *duile bahasa gue* gue mulai bosan sama Kemal gergara materi dia agak gimana gitu. Gue teteup suka cara pembawaan doi sih.
Dan gue mulai move on ke Ge Pamungkas (@GePamungkas). Baru gue sadari kalo dia lucu dan materinya bagus. gue paling suka kalo dia nge-SUC pake sound effect dari suara dia sendiri. Berbakat emang. Dan kata orang-orang nih ye, kalo dia senyum itu aneh banget, soalnya setiap nge-SUC, doi jarang banget senyum dan muka sangar-sok cool-cuek-songong gimanaa gitu. FYI, cita-cita doi adalah polisi dan muka doi polisi banget. Dan beberapa hari lalu, Ge #OpenFollow di twitter. dan gue lagi gak on karena gue liburan tanpa internet. IT'S SO KAMPRET YOU KNOW?!!
| Kemal, Gilang, Ge |
Dan sekarang, udah Grand Final. Sisa 2 orang perwakilan yang sama-sama dari Bandung, yang juga sama-sama berinisial G. Yup. Ge dan Gilang.
Oiye. SUCI 2 ini objektif banget lho, karena yang membuat keputusan adalah pure para juri: Raditya Dika (@radityadika), Indro Warkop (indro_warkop) dan satu juri tamu.
Dan menurut gue, Gilang lucu banget. dia pinter ngolah materi yang sederhana jadi bahan ketawaan yang berbobot.
| Gilang (@gilbhas) |
![]() |
| Ge Pamungkas |
FYI, gue salah satu #GeRoupies nih bray. Apa itu? Karena fansnya Ge gak kalah banyak dari fansnya Kemal, fans Ge menyebut diri mereka #GeRoupies =)) dan buat kalian yang sama kayak gue, ayoo ngobrol bareng :) nge-share apa aja tentang Ge =))
Tanggal 4 Juli nanti bakal diadain Grand Final Stand Up Comedy Indonesia 2 di Taman Mini. And I absolutely bet for Ge!!
Dan buat Stand Up Comedy Kompastv, sukses terus menampung dan mengembangkan bakat-bakat comic Indonesia!
Dan buat Stand Up Comedy Kompastv, sukses terus menampung dan mengembangkan bakat-bakat comic Indonesia!
Keep it fun, dude! Let's make laugh!
"Dimana Rumahmu, Nak?"
Barusan gue nge-stalk Blog orang. dan gue nemuin ini. menurut gue, ini layak gue post ulang.
Dimana Rumahmu Nak?
Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu Nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil Ibu yang lugu.
Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi seorang ibu aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu Nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia Nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berpikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.
Anakku, kita memang berada di satu atap Nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu Nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk Ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi Ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk Ibu. Atau jangankan untuk tersentum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu Nak, Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang Ibu yakin engkau pasti lebih tau. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak, tapi bukankah aku ini ibumu? Yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku...
Anakku, Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, Ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati Ibu mulai bertanya Nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini Nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menyakan keadaan adik-adikmu Nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu?
Anakku, Ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat enkau merasa sangat tidak produktif harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang Nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan, Tapi bukankan keluargamu ini adalah tugasmu juga Nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga Nak?
Anakku, Ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu pada Nak, ada rapat di sana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada Nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal Nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahum ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku...
Kalau boleh Ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh Ibu bertanya Nak, dimana profesimu untuk Ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat?
Ah, waktumu terlalu mahal Nak. Smapai-sampai Ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama Ibu...
Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak, dan adik. Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.
Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridha-Nya...
Dan kelopak mata pun tak kuasa membendung linang air mata.
(Sumber: Handbook panitia Kajian Islam Intensif Padmanaba 2012, KIIP Believing)
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)